Home » , , , » Ritual Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Ritual Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Written By Rivo Kumaseh on Friday, April 12, 2013 | 4:06 AM

Berkas:Taopere.jpg
Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau.
Ingin melihat tempat mengerjakan kapal pinisi? Kami akan mengajak anda berkunjung ke Tana Beru, Sulawesi Selatan. Perahu Phinisi adalah bukti bahwa nenek moyang kita memang pelaut andal. Nelayan dari Suku Bugis Makassar dikenal dengan kemampuan mereka membuat kapal kayu yang megah ini. 


Catatan sejarah menunjukkan bahwa dengan perahu yang dibuat, mereka bisa berlayar ke berbagai belahan dunia, bahkan hingga ke Afrika Selatan. Dan ini dilakukan sejak jaman dulu saat teknologi pelayaran belum maju seperti saat ini. Walaupun menjadi bagian dari sejarah masa lalu Indonesia, namun jejak kapan pinisi masih bisa kita temukan hingga sekarang. Pinisi adalah perahu dagang yang membantu warga Makassar untuk berjualan hingga ke luar wilayah Indonesia. Karena ukurannya yang besar, kapal ini bisa menampung 100 ton barang. Walaupun terbuat dari kayu, perahu pinisi mampu menerjang ombak dan badai di tengah lautan, menyeberang dari satu benua ke benua lainnya. Ciri khas dari perahu pinisi adalah 2 tiang agung atau disebut dengan sokuguru dan layar yang membentang lebar.


Tana Beru yang merupakan sentra pembuatan perahu pinisi di Sulawesi Selatan. Pembuatan perahu tradisional perlahan tergerus dan tersaingi oleh perahu motor. Namun hal ini tidak berlaku bagi perajin di Tana Beru, mereka tetap setia dengan kapal tradisional yang menjadi kebanggaan Indoneia. Tana Beru berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Produksi perahu tradisional di tempat ini sudah dilakukan sejak jaman dulu, turun menurun hingga sekarang. Permintaan terhadap kapal pinisi juga masih ramai hingga sekarang, oleh sebab itu perajin Tana Beru masih tetap berproduksi hingga sekarang.


Di dalam pengerjaan kapal pinisi, para perajin biasanya akan melakukan ritual terlebih dahulu. Pembuatan kapal ini tidak sembarangan, melainkan dicarikan hari baik lebih dulu. Hari baik biasanya adalah hari ke-5 atau ke-7 setiap bulan. Kedua angka ini menyimpan filosofi mendalam bagi warga setempat. Angka 5 berarti rezeki yang berada di tangan, sedangkan angka 7 berarti rejeki yang tidak terputus.Pada hari tersebut, perajin akan mengumpulkan kayu dan bahan baku lainnya. Proses pembuatan kapal pinisi di Tana Beru terorganisasi dengan baik, dan ada seseorang yang mengepalai proses produksi tersebut. Badan kapal pinisi adalah kayu, oleh sebab itu perajin perlu menebang pohon untuk membuatnya. Penebangan tidak boleh dilakukan sembarangan. 

Ada serangkaian upacara yang akan dilakukan oleh para perajin untuk mengusir roh yang menunggui kayu tersebut. Di dalam ritual, biasanya anak ayam dijadikan sesaji untuk diberikan kepada roh penghuni kayu tersebut. Kemudian setelah ritual selesai, para perajin Tana Beru akan mulai menebangi pohon tersebut dengan gergaji. Pekerjaan ini harus dilakukan secara terus-menerus hingga selesai. Itulah mengapa pembuatan perahu pinisi memerlukan orang-orang kuat di belakangnya.


Balok di bagian depan biasanya akan dilarung ke laut, ini sebagai simbol penolak bala. Sedangkan balok di bagian belakang di simpan di rumah, merupakan simbol istri pelaut yang selalu setia untuk menunggu sang suami pulang. Ada 126 lembar papan yang dipakai untuk membuat dasar perahu pinisi. Papan-papan disusun sedemikian rupa hingga rapat dan kokoh, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan buritan atau tempat kemudi. Setelah badan perahu selesai dikerjakan, proses berikutnya adalah memasukkan majun ke dalam sela papan. Ini bertujuan untuk memperkuat sambungan papan-papan tersebut. Pelekat yang dipakai juga sangat sangat alami, yakni dari kulit pohon barruk.Setelah proses ini selesai, dilanjutkan dengan pemdepulan dengan campuran minyak kelapa dan kapur. Dempul sebanyak 20 kilo bisa untuk perahu dengan bobot 100 kg. Yang terakhir dari proses pembuatan kapal pinisi ini adalah peluncuran. Seperti saat menebang pohon, saat peluncuran juga diadakan ritual khusus, seperti memotong kambing atau sapi. Pemasangan baru dilakukan jika kapal sudah berhasil mengapung di laut.

Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : All You Like | Renungan Hari Ini | Mas Template
Copyright © 2011. Chaonechoan Blog - Cerita, Sejarah dan Legenda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger