Home » , , , » Tuanku Imam Bonjol dan Perang Paderi

Tuanku Imam Bonjol dan Perang Paderi

Written By Rivo Kumaseh on Thursday, April 25, 2013 | 12:58 AM


Pada sekitar tahun 1800-an beberapa orang yang baru menunaikan ibadah haji di Mekkah pulang ke tanah Minangkabau. Kepulangan mereka diiringi upaya melakukan pembaharuan dalam agama Islam. Mereka berusaha meluruskan ajaran agama Islam yang diselewengkan. Selain itu, mereka juga berusaha membasmi segala bentuk kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kebiasaan buruk yang coba dihilangkan, antara lain menyabung ayam, berjudi dan meminum-minuman keras. Usaha para ulama untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan burk yang dilakukan masyarakat kemudian di kenal sebagai Gerakan Kaum Paderi.


Sejak munculnya larangan-larangan itu, muncul perlawanan dari Kaum Adat. Kaum adat ialah kelompok di dalam masyarkat yang berusaha mempertahanka kebiasaan setempat. Namun, pengaruh dan kekuatan kaum paderi semakin besar sejak bergabungnya Tuanku Imam Bonjol. Pada pertempuran kaum paderi dengan kaum adat di Tanah Datar, kaum adat terdesak hebat. Dalam situasi seperti ini, mereka berupaya meminta bantuan kepada pihak Belanda.

Pada 10 Februari 1821 Residen Belanda, Du Puy mengadakan perjanjian dengan kaum adat. Mereka bersekutu untuk menghancurkan kaum paderi. Untuk memperkuat kedudukan, Belanda mendirikan Benteng van der Capellen di Batusangkar dan Benteng de Kock di Bukittinggi. Beberapa kali Belanda melancarkan serangan, tetapi selalu gaal. Bahkan Belanda seringkali terseret ke dalma jebakan kaum paderi. Pada tahun 1825 Belanda memutuskan mengadakan perjanjian damai dengan kaum paderi. Hal ini disebabkan pasukan Belanda saat itu juga sedang disibukkan oleh Perang Diponegoro. Rupanya, kaum paderi menyetujui perjanjian ini.

Ketika Perang Diponegoro usai, Belanda membatalkan perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Pemimpin militer tertinggi di Sumatera Barat, Kolonel Elout segera melancarkan serangan terhadap kedudukan kaum paderi. Serangan Belanda yang membabi buta ini justru telah menyadarkan kaum adat bahwa sesungguhnya Belanda berkeinginan menguasai dan menindas Rakyat Minangkabau. Kaum adat akhirnya menggabungkan diri dengna kaum paderi untuk menghadapi pasukan Belanda.


Dalam menyikapi perang yang berlarut-larut, Gubernur Jenderal van den Bosch segera mengirimkan bala bantuan militer ke Padang pada pertengahan tahun 1832. Pasukan ini terdiri dari tiga kompi dengna perlengkapan beberapa meriam dan mortir. Dalam pasukan ini diikutkan pula Sentot Alibasyah Prawirdirjo dan pengikutnya. Namun, ketika pertempuran meletus kembali, pasukan Sentot Alibasyah membelot ke kaum paderi. Hal ini disebabkan munculnya kesadaran dirinya bahwa kaum paderi sebenarnya merupakan masyarakat pribumi yang juga hendak berusaha membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Pembelotan Sentot Ali Basyah segera diketahui pihak Belanda. Ia kemudian ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Pasukannya dibubarkan dan dipulangkan ke daerah asalnya.

 

Pada taun 1835 pasukan Belanda dapat memukul kaum paderi di Simawang. Beberapa pimpinannya berhasil ditangkap. Pejuang paderi lainnya kemudian memusatkan pertahannnya di Bonjol. Akan tetapi, semakin lama kekuatan pertahanan kaum paderi semakn lema. Kesulitan utama adalah ditutupnya jalan-jalan penghubung benteng Bonjol dengan daerah-daerah lain. Akhirnya, pada 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol beserta pasukannya menyera. Imam Bonjol Kemudian di buang Ke Cianjur.

Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : All You Like | Renungan Hari Ini | Mas Template
Copyright © 2011. Chaonechoan Blog - Cerita, Sejarah dan Legenda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger