Home » » Kisah Inspirasi | Kujual separu ginjalku demi suamiku

Kisah Inspirasi | Kujual separu ginjalku demi suamiku

Written By Rivo Kumaseh on Sunday, August 18, 2013 | 9:39 AM

Tak terasa perjalanan rumah tangga kami sudah berjalan lebih dari dua belas tahun, tiga orang buah hati juga telah menghiasi dan melengkapi bahtera rumah tangga ini. seperti juga keluarga lainnya, kebahagaiaan, rintangan dan pertentangan yang menimbulkan pertengkaran, juga kerap terjadi dalam perkawinan kami, dan itu semua bisa kami lewati dengan segala usaha dan daya agar perkawinan ini bisa bertahan sampai akhir hayat kami. 


Sebut saja namaku Luken (bukan nama sebenarnya), aku adalah seorang guru Sekolah Dasar di Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya, suamiku sebut saja namanya Bardi (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai sopir di sebuah industi di kawasan Karawang, Jawa barat. Dan hanya pulang kerumah tiga kali dalam seminggu karena jarak yang cukup jauh dari rumah ke tempat pekerjaan 

Lantaran hal tersebut, aku sebagai istrinya tak bisa mengetahui secara pasti apa saja kegiatannya saat pekerjaannya selesai. Terus terang, sedikit banyak aku merasa risau, apalagi banyak mitos yang menyebutkan bahwa profesi sopir biasanya memilki banyak godaan, khususnya godaan perempuan. Dulu, sebelum bekerja sebagai sopir, ia pernah tergoda dengan seorang janda beranak satu, padahal saat itu aku tengah mengadung anak keduaku. 
Setengah tahun lamanya aku berusaha untuk tetap sabar menghadapi cobaan hidup yang memilukan, dan untuk itu aku harus mengorbankan hak-hakku sebagai seorang istri. Aku harus tetap bekerja unutk mencukupi kebutuhan hidup kami. Sementara Bardi, kerjanya cuma nongkrong di rumah ajnda itu, pergi pagi hari dan pulang larut malam tanpa sedikitpun memberi uang belanja untuk aku, bahkan ia kerap meminta uang kepadaku. 

Yang membuat hatiku bertambah pedih, Bardi kerap membawa Rio anak si janda yang masih balita itu ke rumah. Setiap hari Bardi juga membawa pulang motor milik janda tersebut. Padahal aku sudah mengingatkan Bardi agar tak membawa kendaraan tersebut ke rumah, karena sangat beresiko. Tapi Bardi malah memaki aku, “Kamu ini bego ya, suami pulang bawa motor bukannya senang kok malah takut, emang kamu bisa beli motor sendiri? udahlah jangan banyak laga,” 


Bardi juga sering membanding-bandingkan Heri (bukan nama sebenarnya) anak pertamaku dengan anak janda itu. Ia bilang Rio yang seharusnya jadi anak kami, bukannya Heri yang kerap sakit-sakitan dan selalu menyusahkan. “Heri itu anak kita mas, lagipula yang selama ini mengurus Heri bukan kamu, aku yang setiap hari memberinya makan, mengasuhnya, mengantarnya ke sekolah, memberinya uang jajan. Apa kamu pernah melakukan hal itu sekali saja, belum pernahkan?” kataku saat itu. 


Jika mengingat hal itu, air mata ini tak bisa lagi kubendung. Betapa perih hatiku ketika aku menyaksikan Heri merengek meminta ayahnya untuk berkeliling dengan motor yang kerap ia bawa, tetapi Bardi tak pernah mengacuhkannya, Heri cuma bisa menatap ayahnya dengan pandangan mata penuh harap dan menangis ketika melihat ayahnya pergi bersama Rio. 

Begitulah kehidupanku, cobaan dan godaan datang silih berganti, sampai suatu ketika kekhawatiranku selama ini akhirnya terjadi juga. Motor yang kerap ia pakai untuk berkeliling dan bergaya hilang digondol pencuri. Si janda menuduh suamiku sengaja menjual motor tersebut. Ia tak perduli dengan keterangan yang dilontarkan Bardi. Ia juga mengancam akan melaporkan hal itu kepada polisi jika kami tak bisa menggantinya. 

Ya Tuhan, dari mana uang pengganti itu bisa aku dapatkan, aku memang bekerja, memiliki sedikit simpanan, tapi itu semua untuk keperluan kami sehari-hari. Sementara Bardi saat itu cuma bisa termenung. Untuk meminta bantuan orang tuannya jelas ia tak berani, karena orang tuannya terlanjur mencapnya sebagai anak yang durhaka yang tak pernah mau mengikuti nasihat keluarga. 

Keluarganya malah menyarankan aku untuk tak mengganti motor yang hilang tersebut, “Buat apa diganti Ken, biar aja dia di penjara, biar dia tau rasa. Dari dulu dinasehati tapi nggak pernah mau nurut,” sungut ayah Bardi. Tetapi Bardi tetaplah suamiku, ayah dari anakku, aku tak ingin kedua anakku kelak tahu ayahnya pernah masuk penjara, “Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi,” rutukku dalam hati. 

Dan akhirnya aku memang bisa menggantinya dengan motor baru, dengan jerih payahku sendiri, dengan menghabiskan seluruh uang simpanan yang aku miliki. Dan sampai saat ini tak seorangpun tahu, termasuk suamiku sendiri jika uang yang kudapatkan itu adalah dengan menjual separuh ginjalku kepada seseorang yang membutuhkan. Biarlah hal itu menjadi rahasiaku sendiri, demi suami dan keutuhan rumah tanggaku juga demi nama baik keluargaku. 

Aku berharap Bardi bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu dan sadar sepenuhnya bahwa ia memiliki keluarga yang memperhatikannya, membutuhkan kasih sayangnya, membutuhkan kehadirannya. Dan mudah-mudahan kerisauanku saat ini tak pernah menjadi kenyataan, mudah-mudahan Bardi tak lagi tergoda dengan hal-hal yang membuatnya bisa kembali terjebak dalam kemaksiatan.untuk cerita kisah nyata lainya>>>>>,sumber
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : All You Like | Renungan Hari Ini | Mas Template
Copyright © 2011. Chaonechoan Blog - Cerita, Sejarah dan Legenda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger